problematika makan
Written on 11:41 PM by Tazmania
Ketika perutmu lapar, ketika rasa haus menusuk-nusuk tenggorokan, pintu siapakah yang akan kau ketuk untuk meminta sedikit nasi atau sepotong roti??
Apakah kau akan pergi kesana, ke rumah-rumah berpagar tinggi ataukah kau akan pergi ke rumah-rumah selebritis idolamu?
Tidak kawan, kau tidak akan pergi kesana. Yang mengerti penderitaanmu dan yang akan menolongmu hanya mereka yang pernah merasakan betapa nyerinya menahan lapar juga haus.Mereka yang tidak pernah mendengar bunyi lambung yang keroncongan, memang tidak akan mengerti kenapa seseorang bisa nekat membunuh hanya demi sesuap nasi. Mereka yang dimanjakan hidupnya juga tidak akan mengerti betapa hari esok adalah sebuah ketidakpastiaan yang mengerikan.Ya…yang membedakan antara orang dengan orang lain dalam urusan makan memang hanya 2, yaitu : Orang yang hidup untuk makan dan orang yang makan untuk hidup.Orang yang hidup untuk makan biasa disebut “ rakus” ia memakan segalanya dan tak pernah kenyang. Karna hidupnya hanya untuk makan, makan dan makan. Tak peduli walaupun makanan itu jatah orang, asal tak ketahuan cepat-cepat disantap ! Sebaliknya orang yang makan untuk hidup lebih tau diri, baginya makan hanya ketika lapar. Karna itu ia tidak bisa disebut rakus.Selain iu, perkara makan pun bisa dijadikan ukuran status seseorang dalam masyarakat.
Pernah dengar yang namanya falsafah makan?Orang yang statusnya paling rendah dalam masyarakat, falsafah yang berlaku adalah…” Hari ini makan atau tidak?” yang termasuk kategori ini adalah mereka yang hidupnya benar-benar susah. Bahkan ia sendiri tidak tau apakah siang ini atau sore nanti bisa makan atau tidak .Yang kedua nasibnya jauh lebih baik. Mereka ini adalah orang yang sudah bisa bertanya “ hari ini makan apa?” makan apapun hari ini yang jelas ia sudah tidak pusing lagi memikirkan makanan.Selanjutnya yang ketiga lebih baik lagi nasibnya. Mereka tidak lagi pusing dengan urusan makan apa, tapi pusingnya mereka adalah pusing yang mewah. “ Hari ini makan dimana?”Yang terakhir dan yang paling tinggi status sosialnya adalah mereka yang dalam urusan makanan sudah bisa berkata, “ Hari ini makan siapa?”. Artinya jelas kesewenang-wenangan dan hanya orang yang memiliki kekuasaan yang bisa berbuat sewenang-wenang. Herannya, justru kebanyakan orang seringkali malah menghormati mereka. Anehkan?...orang memakan orang lain kok malah dihormati. Harusnya mereka itu dikerangkeng dalam kandang besi kemudian dalam kandang tersebut dimasukkan seekor beruang besar,,sehingga kita bisa berkata “ Hari ini anda makan beruang Tuan”Begitulah persoalan makan memang bukan urusan sepele. Banyak orang membanting tulang, mungkin juga membanting teman, hanya karena urusan makan.
Walaupun pada akhirnya makanan yang sulit dicari itu harus dikeluarkan kembali lewat hajat. Karna itupula kita ( Muslim dan Muslimah ) diwajibkan berpuasa. Banyak hikmah dalam puasa. Setidaknya agar kita bisa merasakan betapa tidak enaknya jadi orang yang selalu bertanya, “ Hari ini makan atau tidak?”. Sehingga kita bisa look down sedikit kepada mereka…
Apakah kau akan pergi kesana, ke rumah-rumah berpagar tinggi ataukah kau akan pergi ke rumah-rumah selebritis idolamu?
Tidak kawan, kau tidak akan pergi kesana. Yang mengerti penderitaanmu dan yang akan menolongmu hanya mereka yang pernah merasakan betapa nyerinya menahan lapar juga haus.Mereka yang tidak pernah mendengar bunyi lambung yang keroncongan, memang tidak akan mengerti kenapa seseorang bisa nekat membunuh hanya demi sesuap nasi. Mereka yang dimanjakan hidupnya juga tidak akan mengerti betapa hari esok adalah sebuah ketidakpastiaan yang mengerikan.Ya…yang membedakan antara orang dengan orang lain dalam urusan makan memang hanya 2, yaitu : Orang yang hidup untuk makan dan orang yang makan untuk hidup.Orang yang hidup untuk makan biasa disebut “ rakus” ia memakan segalanya dan tak pernah kenyang. Karna hidupnya hanya untuk makan, makan dan makan. Tak peduli walaupun makanan itu jatah orang, asal tak ketahuan cepat-cepat disantap ! Sebaliknya orang yang makan untuk hidup lebih tau diri, baginya makan hanya ketika lapar. Karna itu ia tidak bisa disebut rakus.Selain iu, perkara makan pun bisa dijadikan ukuran status seseorang dalam masyarakat.
Pernah dengar yang namanya falsafah makan?Orang yang statusnya paling rendah dalam masyarakat, falsafah yang berlaku adalah…” Hari ini makan atau tidak?” yang termasuk kategori ini adalah mereka yang hidupnya benar-benar susah. Bahkan ia sendiri tidak tau apakah siang ini atau sore nanti bisa makan atau tidak .Yang kedua nasibnya jauh lebih baik. Mereka ini adalah orang yang sudah bisa bertanya “ hari ini makan apa?” makan apapun hari ini yang jelas ia sudah tidak pusing lagi memikirkan makanan.Selanjutnya yang ketiga lebih baik lagi nasibnya. Mereka tidak lagi pusing dengan urusan makan apa, tapi pusingnya mereka adalah pusing yang mewah. “ Hari ini makan dimana?”Yang terakhir dan yang paling tinggi status sosialnya adalah mereka yang dalam urusan makanan sudah bisa berkata, “ Hari ini makan siapa?”. Artinya jelas kesewenang-wenangan dan hanya orang yang memiliki kekuasaan yang bisa berbuat sewenang-wenang. Herannya, justru kebanyakan orang seringkali malah menghormati mereka. Anehkan?...orang memakan orang lain kok malah dihormati. Harusnya mereka itu dikerangkeng dalam kandang besi kemudian dalam kandang tersebut dimasukkan seekor beruang besar,,sehingga kita bisa berkata “ Hari ini anda makan beruang Tuan”Begitulah persoalan makan memang bukan urusan sepele. Banyak orang membanting tulang, mungkin juga membanting teman, hanya karena urusan makan.
Walaupun pada akhirnya makanan yang sulit dicari itu harus dikeluarkan kembali lewat hajat. Karna itupula kita ( Muslim dan Muslimah ) diwajibkan berpuasa. Banyak hikmah dalam puasa. Setidaknya agar kita bisa merasakan betapa tidak enaknya jadi orang yang selalu bertanya, “ Hari ini makan atau tidak?”. Sehingga kita bisa look down sedikit kepada mereka…